
Dalam suasana yang penuh harapan dan kegembiraan, Mak Pono memasuki lapau Tek Minar dengan langkah yang penuh semangat. Baju yang dikenakannya rapi, dan topi yang dipakai menambah pesonanya. Di tengah kesibukan tersebut, kegelisahan tampak jelas di wajahnya, seolah ada sesuatu yang mengganggu pikirannya.
“Sejak awal puasa, Mak Pono hilang dari pandangan, sudah lama tidak terlihat,” ungkap Tek Minar dengan nada prihatin.
“Saya lebih suka bekerja di kebun, menyibukkan diri dengan tanaman yang tumbuh di sekitar, sambil mengolah apa yang bisa saya jual. Ada banyak hal yang harus saya kerjakan dan saya ingin memastikan semuanya siap untuk menyambut hari raya,” jawab Mak Pono sambil menyusun kue lebaran yang telah disiapkan oleh Tek Minar.
Sambil memeriksa kacang padi yang baru dipanen, Tek Minar bercerita, “Tahun ini suasana lebaran terasa berbeda. Ada banyak perbedaan dalam penjadwalan, mulai dari hari Jumat, Sabtu, hingga puasa yang dimulai pada hari Rabu. Banyak yang merayakan di hari yang berbeda-beda, membuat suasana semakin meriah.”
“Oh iya, saya hampir lupa, kita harus merencanakan perayaan bersama, saya juga ingin berbagi kebahagiaan di hari raya dengan Mak Pono,” Tek Minar menepuk tangan.
“Saya tidak punya uang untuk THR tahun ini, Tek. Keadaan masih sulit,” sambung Tek Minar sambil menghela napas.
“Jangan terbiasa meminta-minta, Tek. Sekarang kita harus berusaha lebih keras lagi. Kita perlu saling membantu dan merayakan lebaran dengan cara yang lebih baik,” kata Mak Pono, menanggapi dengan tegas.
Baca Juga:
Mak Pono melanjutkan, “Banyak orang saat ini kesulitan merayakan Idul Fitri karena alasan ekonomi. Beberapa yang biasa berbelanja untuk lebaran kini menahan diri.” Dia merasa prihatin mendengar banyak orang yang terpaksa mengorbankan tradisi lebaran demi kebutuhan sehari-hari.
“Apakah ada bantuan THR dari pemerintah? Saya mendengar berita tentang itu,” Tanya Tek Minar dengan harapan.
“Mungkin ada, tapi kita harus mendaftar dengan benar agar tidak terlewat. Saya dengar ada beberapa batas waktu yang harus diperhatikan,” jawab Mak Pono.
“Saya sudah mendaftar! Semoga saja saya bisa mendapatkan bantuan itu,” Tek Minar terlihat lebih ceria.
Tek Minar mulai melihat situasi di lapau, terutama saat lebaran, biasanya pelanggan tetapnya sudah hadir sejak pagi. Namun, kali ini hanya Mak Pono yang datang, sementara yang lain masih absen.
Mak Pono memperhatikan sekeliling, mulai memantau situasi menjelang hari raya. Dia melihat banyak kendaraan terjebak dalam kemacetan, serta berbagai kejadian unik yang menjadi viral di media sosial, dari orang-orang yang beribadah hingga tradisi unik yang terjadi selama lebaran.
“Assalamualaikum, Mak. Mohon maaf lahir batin,” Muncak tiba-tiba muncul dan langsung bersalaman dengan Mak Pono.
“Sama-sama, Muncak. Semoga kita semua bisa saling memaafkan di hari yang suci ini,” jawab Mak Pono dengan tulus.
“Apa yang Mak Pono siapkan untuk lebaran?” Muncak bertanya sambil melihat kue-kue yang tersaji di depan Mak Pono.
“Ada beberapa kue lebaran yang saya buat. Saya harap rasanya enak dan bisa dinikmati semua,” jawab Mak Pono sambil tersenyum.
Mak Pono merasa bangga dengan hasil kue lebaran yang telah disiapkannya, sekaligus berharap semua bisa menikmati hasil kerjanya.
Melihat kehadiran Muncak dan Mantari, Tek Minar berusaha melayani pelanggan yang datang, meminta berbagai makanan khas lebaran, mulai dari kue-kue kering hingga makanan berat. Suasana lebaran di lapau terasa hangat, meskipun ada beberapa pelanggan yang belum datang.
“Jadi, Mak Pono, kapan lebaran yang tepat tahun ini?” tanya Muncak dengan rasa ingin tahu.
“Lebaran jatuh pada hari Sabtu, sesuai dengan keputusan pemerintah,” jawab Mak Pono dengan tegas.
“Tapi saya lihat, setelah salat Jumat, Mak Pono sudah mulai merayakan dengan minum cindua,” Mantari menyela.
“Iya, saya berpuasa pada hari Jumat, jadi saya sudah siap untuk merayakan lebaran setelah itu,” jawab Mak Pono dengan bangga.
“Apakah tidak ada spasi antara puasa dan lebaran?” tanya Muncak, tampak bingung.
“Kalau kita melihat, puasa saya sudah penuh, dan lebaran sudah ditentukan, jadi rasanya semua sudah sesuai,” Mak Pono menjelaskan dengan bijak.
Baca Juga:
